Makna Idul Fitri yang sesungguhnya adalah tentang keikhlasan, bukan sekadar tradisi. Memaafkan membuat kita benar-benar fitri, kembali bersih dan suci.
SPIRITKITA.ID - Idul Fitri bukan hanya sekadar perayaan saja tapi banyak momen yang terkandung di dalamnya salah satunya adalah momen untuk kembali suci, baik dalam jiwa maupun hubungan dengan sesama.
Tak dipungkiri, memaafkan adalah bukan perkara mudah terutama jika kesalahan yang terjadi begitu besar dan menyakitkan. Butuh hati yang lapang dan keikhlasan yang tulus untuk bisa benar-benar menghapus luka dan mengembalikan hubungan seperti sediakala.
Berikut Redaksi, sajikan kisah seseorang sebut saja namanya John, dengan hati yang terbuka dan tulus memaafkan temannya yang telah membuat dia sakit hati yakni dihianati dalam perkara bisnis.
John sudah lama berteman dengannya hampir 10 tahun. suatu ketika ia berbisnis dan sukses. Tapi ternyata, sebut saja Fulan, berbohong kepadanya mengenai transaksi yang sebenarnya. John sangat kecewa karena dirinya sudah percaya kepada si Fulan tapi menghianatinya.
Berikut kisah John
John, seorang pria berusia 30 tahun, pernah mengalami kejadian yang begitu membekas di hatinya. kejadiannya sekitar tahun 2021, seorang teman dekatnya bernama Fulan melakukan sesuatu yang membuatnya sangat kecewa. Kepercayaan yang telah dibangun bertahun-tahun tiba-tiba hancur begitu saja karena satu kejadian.
"Saat itu saya merasa dikhianati. Saya marah, kecewa, dan berpikir untuk tidak pernah berhubungan lagi dengan si Fulan. Saya merasa tidak bisa memaafkannya." katanya kepada Redaksi.
Waktu berlalu, tetapi kecewa itu tetap membekas. Hingga akhirnya, menjelang Idul Fitri 1445 Hijriyah atau 2024 lalu, John merenung. Ia mengingat betapa indahnya masa-masa persahabatan mereka sebelum kejadian itu. Ia juga sadar, menyimpan dendam tidak membuatnya bahagia. Ada ketidaknyaman di hati.
"Saya berpikir, kalau saya terus menyimpan kemarahan, kecewa ini, saya yang akan rugi. Saya ingin hati saya tenang, saya ingin benar-benar merasakan makna Idul Fitri," lanjutnya.
Setelah mempertimbangkan semuanya, dengan niat tulus, John memutuskan untuk menghubungi Si Fulan dan mengatakan bahwa ia telah memaafkannya.
Setelah niatnya itu terlaksana, perasaan lega dan nyaman dirasakan. John ingin keganjalan di hati selama 2 tahun ingin selesai dan membuat lembaran baru dengan hati yang tenang.
"Saya tidak bilang saya lupa, karena memang tidak bisa melupakan begitu saja. Tapi saya memilih untuk tidak membiarkan itu mengendalikan hidup saya. Saya ingin memulai lembaran baru," ujarnya dengan senyum lega.
Dari secuil kisah tersebut ada sebuah pesan yang ingin disampaikan yakni memaafkan memang berat tapi akan berujung kepada kebaikan dan kenyamanan.
Sekarang yang menjadi pertanyaan, mengapa harus memaafkan?
karena akan meringankan hati. Menyimpan dendam hanya akan membuat hati semakin sesak. Memaafkan memberikan kebebasan batin yang luar biasa. Memaafkan menyambung Silaturahmi. Hubungan yang renggang bisa kembali erat. Bisa jadi, orang yang pernah menyakiti kita juga menyesal dan ingin memperbaiki keadaan.
Selain itu dengan memaafkan akan menjadi lebih baik. Memaafkan adalah tanda kedewasaan dan kebijaksanaan. Kita belajar untuk tidak terjebak dalam emosi negatif.
Makna Idul Fitri yang sesungguhnya adalah tentang keikhlasan, bukan sekadar tradisi. Memaafkan membuat kita benar-benar fitri, kembali bersih dan suci. Pada akhirnya, memaafkan adalah hadiah, bukan hanya bagi mereka yang bersalah, tetapi juga untuk diri kita sendiri. Di Hari Raya ini, mari bebaskan hati dari beban masa lalu, rangkul kembali mereka yang pernah menyakiti, dan jadilah pribadi yang lebih ikhlas. Karena sejatinya, Lebaran bukan tentang kemewahan, tetapi tentang kebersihan hati.
Selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin.