SPIRITKITA.ID - Hari Kartini bukan sekadar simbol sejarah, tapi refleksi tentang perempuan dan peranannya hari ini. Di tengah derasnya kemajuan zaman, perempuan muda Indonesia menghadapi dua pilihan yang sering bikin dilema yakni mengikuti arus modern atau tetap memeluk kodrat?
“Aku suka otomotif. Tapi kadang dibilang ‘itu kerjaan cowok’. Padahal kan nggak ada undang-undang yang larang cewek bisa jadi montir,” kata Indri (17), siswi SMK jurusan Otomotif.
Perempuan masa kini hidup dalam era digital dan serba cepat. Kesempatan terbuka lebar. Tapi sering kali, justru di tengah kebebasan itu muncul tekanan baru harus cantik, harus pintar, harus multitasking, dan tetap ‘feminim’.
Dulu Kartini bicara soal hak belajar. Hari ini, perempuan sudah bisa kuliah tinggi, jadi CEO, bahkan astronot. Tapi bukan berarti perjuangan selesai.
“Buat aku, emansipasi itu bukan nyamain laki-laki, tapi dikasih ruang yang sama buat berkembang,” ujar Maya (20), mahasiswa hukum yang juga aktivis perempuan.
Kodrat vs Kemajuan
Isu yang paling sering muncul di medsos apakah perempuan harus tetap di rumah karena ‘kodrat’? Apakah jadi ibu rumah tangga itu kalah keren dari jadi wanita karier?
“Perempuan itu bisa jadi apapun. Tapi kodratnya tetap ada. Melahirkan, menyusui, ya itu anugerah. Bukan batasan. Bukan alasan buat dilarang berprestasi,” ungkap Risa (23), penyuluh KB muda di daerah pedalaman Kalimantan.
Kartini Digital
Dari konten edukatif, bisnis online, sampai aktivisme sosial, perempuan Gen Z dan milenial udah banyak yang bersinar. Mereka sadar being a woman in this era means knowing your value.
“Aku bukan feminis ekstrem. Tapi aku percaya perempuan harus bisa hidup berdiri di kakinya sendiri. Bukan buat melawan laki-laki, tapi buat survive,” ucap Lira (19), kreator konten dan relawan pendidikan.
Kartini bukan lagi sekadar sejarah. Dia hadir dalam bentuk lain: dalam suara perempuan yang tidak diam, dalam tangan-tangan yang berkarya, dan dalam langkah-langkah kecil perempuan muda yang berani jadi versi terbaik dari dirinya sendiri.